Jumat, 02 Agustus 2013
Minggu, 02 September 2012
Budaya Terracota Majapahit
| Peta Wilayah Utama Kerajaan Majapahit |
Kata “Terracota”
berasal dari bahasa Italia terra cotta,
yang berarti bakaran tanah. Merujuk kepada obyek benda-benda yang terbuat dari
tanah liat yang dibakar. Budaya terracotta Majapahit terdiri dari berbagai
jenis artefak dari tanah liat yang diproduksi di era Kerajaan Majapahit yang
meliputi ornamental bangunan, patung, hiasan taman dan kuil, serta wadah dan
periuk untuk keperluan sehari-hari. Artefak-artefak
terracotta Majapahit yang ditemukan dari masa itu dibuat dengan cara dikeringkan
di bawah sinar matahari terlebih dahulu sebelum kemudian dibakar di dalam
tungku sederhana yang terbuka.
Seni terracotta penduduk Majapahit merupakan satu bidang pengetahuan sejarah yang
belum dipelajari dengan lebih mendalam oleh kebanyakan peneliti. Selama periode
waktu yang lama, budaya terracotta Majapahit kurang begitu diperhatikan jika
dibandingkan dengan hasil peninggalan seni Majapahit lainnya yang terbuat dari perunggu,
batu atau emas. Oleh sebab itu, banyak fragmen-fragmen terracotta yang
ditemukan di wilayah Trowulan oleh para petani yang sedang mengolah tanah maupun
oleh para pekerja bangunan dan jalan, kurang dihargai.
| Terracota Gajahmina. Benda ini berfungsi sebagai meja sesaji / offering stand |
Adalah Sir Thomas Stamford Raffles, seorang Liutenant
Governor di Jawa pada tahun 1811 sampai 1815 yang pertama kali membangkitkan
perhatian masyarakat dunia terhadap sejarah purbakala Jawa. Melalui tulisannya
yang berjudul History of Java yang
dipublikasikan pada tahun 1817 dimana ia pertama kali mendiskusikan perihal
Majapahit, khasanah sejarah inipun kemudian menjadi banyak dipelajari oleh para
ilmuwan Belanda di akhir abad ke-19.
Di awal abad ke-20, seorang Regent untuk wilayah Mojokerto, R.A.A. Kromodjojo Adinegoro, mulai
memperhatikan masalah pelestarian budaya dan peninggalan sejarah dari Kerajaan
Majapahit di wilayahnya. Ia bersama dengan arsitek dan arkeolog Belanda, Henri
Maclaine Pont, kemudia mendirikan museum di dekat situs Majapahit dengan
dukungan dari Oudheidkundig Vereeniging
Majapahit (OVM – Majapahit Archeological Society) di tahun 1924. Sebagai pemimpin
pertama dari museum situs ini, Maclaine Pont telah membuka berbagai jalan untuk
studi lanjutan tentang Terracotta Majapahit.
Berdasarkan dari survey lapangannya, Maclaine Pont kemudian
berhasil menentukan lokasi utama dari situs Ibukota kuno Majapahit, serta
sketsa tentative mengenai bentuk kehidupan urban di pusat kerajaan tersebut. Kemudian,
W.F. Stuterheim, kepala biro arkeologi Netherlands East Indies (Pemerintah
Kolonial Hindia Belanda), menulis laporan yang dipublikasikan pada 1941 yang
membahas tentang hubungan arsitektur era Majapahit dengan Istana-istana di
Bali. Teorinya tersebut kemudian melahirkan Historiografi Jawa menjadi sebuah
bidang pengetahuan sejarah yang baru.
Artefak terracotta yang ditemukan oleh Maclaine Pont dan
Stutterheim sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.
| Tempat lilin dari terracota ini, digunakan sebagai penerangan di banyak rumah-rumah masyarakat era Majapahit |
Meskipun kurangnya riset mengenai terracotta majapahit,
ketertarikan masyarakat dunia terhadap seni terracotta majapahit semakin
meningkat, ditunjukkan dengan banyaknya jumlah permintaan, pameran, dan katalog
tentang hasil seni terracotta majapahit di pasar seni dunia. Contohnya bisa
ditemukan pada koleksi-koleksi di beberapa museum di dunia termasuk Museum
Trowulan Jawa Timur, Museum Nasional Jakarta, Rijksmuseum Amsterdam, Keramiekmuseum
Princessehof di Leeuwarden, Netherlands Museum, dan Metropolitan Museum of Art
di New York.
Sayangnya, kurangnya pengetahuan di bidang ini,
mengakibatkan masyarakat mudah tertipu oleh replica artefak palsu yang banyak
diproduksi oleh perajin di pedesaan sekitar Trowulan, Mojokerto sejak tahun
1950 an atau bahkan lebih awal lagi, untuk kemudian dijual di pasar seni di
area Trowulan, Surabaya dan Ibukota Jakarta dalam jumlah massal.
Artefak terracotta majapahit dibagi menjadi tiga kategori
besar berdasarkan dari segi kegunaannya yaitu, wadah dan perlengkapan rumah
tangga seperti mangkuk, kendi dan pot dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Kemudian dekorasi arsitektur seperti ornament atap, tiruan kuil dan miniature
bangunan yang digunakan untuk hiasan taman. Serta kategori hiasan patung dalam
bentuk kepala dan dada figuran wanita yang digunakan sebagai pedestal atau
hiasan taman.
| Patung hiasan taman ini digunakan sebagai penghias taman-taman kalangan masyarakat menengah atas di Era Majapahit. Menunjukkan salah satu trend fashion wanita pada masa itu. |
Sejarah Berdirinya Kerajaan Singasari: Tafsir Sejarah Manuskrip Pararaton
| Arca Dwarapala Peninggalan Era Kerajaan Singhasari di Singosari, Kabupaten Malang. Mungkin merupakan patung penjaga menuju ke kraton Singhasari |
Kerajaan
Singasari memiliki keterkaitan dengan kerajaan Majapahit yang didirikan
oleh Nararya Sanggramawijaya pada tahun 1293 Masehi. Sanggramawijaya
atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Raden Wijaya adalah cucu
dari Narasingamurti dan menantu dari Raja Kertanegara. Kertanegara
adalah raja Singasari terakhir yang meninggal terbunuh dalam peperangan
melawan tentara pemberontak yang mengatas namakan Kerajaan Kediri di
bawah pimpinan Jayakatwang. Raden Wijaya secara resmi menjadi raja
Majapahit setelah berhasil mengalahkan tentara Jayakatwang yang telah
merebut Singasari. Raden Wijaya melakukannya dengan bantuan tentara
Tartar dari China yang awalnya datang ke Jawa untuk tujuan menaklukkan
Singasari yang ternyata sudah terlebih dahulu diruntuhkan oleh
Jayakatwang.
| Candi Jawi di Pandaan, Kab, Pasuruan, Jawa Timur. Tempat Perabuan Kertanegara - Raja Terakhir Singasari yang tewas dalam pemberontakan raja bawahannya dari Gelang-gelang. |
Kisah
tentang kerajaan Singasari, pertama kali disiarkan dalam karya J.L.A.
Brandes, Pararaton of het boek der konigen van Tumapel en van Majapahit
uitgegeven en toegelicht, di tahun 1896. Dalam karya tersebut J.L.A.
Brandes membahas tentang kisah pendiri Singasari sebagaimana tertulis di
dalam Serat Pararaton atau yang juga disebut sebagai Katuturanira Ken
Arok. Dimulai dengan cerita tentang Ken Arok yang kemudian menjadi
pendiri kerajaan Tumapel dan mengambil nama abhiseka Rajasa Sang
Amurwabhumi setelah mengalahkan Raja Kertajaya dari Kediri. Sejak saat
itu, cerita Ken Arok mulai dikenal di lingkungan kesejarahan Indonesia.Pararaton
adalah manuskrip jawa kuno yang ditulis dalam bentuk dongeng yang
berbeda dengan bentuk tulisan sejarah. Oleh karena itu beberapa ahli
sejarah menolak kebenaran naskah tersebut. Namun, perlu diperhatikan
bahwa cerita itu tidak diperuntukkan bagi para ahli sejarah, melainkan
bagi masyarakat Jawa Kuno yang pada saat itu banyak mendapat pengaruh
dari kepercayaan Hindu. Maka dengan sendirinya, manuskrip tersebut
dikisahkan sesuai dengan alam pikiran masyarakat yang membacanya. Ajaran
hinduisme, meliputi diantaranya dewa-dewa, titisan, karma dan yoga.
Ajaran itu mempengaruhi alam pikiran masyarakat Jawa dan
kesusasteraannya. Pararaton adalah hasil sastra dari zaman itu, maka
dengan sendirinya sastra Pararaton juga bersudut pandang ajaran
Hinduisme.Berikut ini adalah ringkasan cerita tentang Ken Arok sebagaimana tertulis di dalam naskah Pararaton.Bhatara
Brahma berjinak-jinak dengan Ken Ndok di lading Lalateng, kemudian
berpesan agar Ken Ndok jangan lagi berkumpul dengan suaminya. Larangan
Dewa Brahma itu mengakibatkan perceraian dengan suaminya Ken Ndok, Gajah
Para. Ken Ndok pulang ke Desa Pangkur, diseberang utara sungai; Gajah
Para kembali ke Desa Campara, di seberang selatan. Lima hari kemudian,
Gajah Para meninggal, konon karena ia melanggar larangan Dewa Brahma dan
karena anak yang masih di dalam kandungan. Setelah sampai bulannya, Ken
Ndok melahirkan bayi laki-laki, yang segera dibuang di kuburan akibat
menanggung malu. Pada malam harinya, seorang pencuri bernama Lembong
tercengang melihat sinar berpancaran di kuburan tersebut. Saat sinar itu
didekatinya nampaklah seorang bayi sedang menangis. Karena kasihan maka
bayi tersebut dibawanya pulang. Segera tersiar kabar bahwa Lembong
mempunyai anak pungut berasal dari kuburan. Mendengar kabar itu, Ken
Ndok dating mengunjungi Lembong dan mengaku bayi itu anaknya, lahir dari
kekuasaan Bhatara Brahma. Anak itu diberi nama Ken Arok.Ken
Arok tinggal di desa Pangkur sampai dapat menggembalakan kerbau, namun
ia suka berjudi. Harta kekayaan Ayah pungutnya habis diperjudikan.
Ketika ia disuruh menggembalakan kerbau kepala desa Lebak, kerbau itupun
diperjudikannya juga. Akibatnya ayah pungutnya harus membayar uang
ganti rugi. Karena kesal, Ken Arok pun diusir dari rumah. Ditengah jalan
ia bertemu dengan Bango Samparan, penjudi dari Desa Karuman. Ken Arok
dibawa ke tempat perjudian. Pada waktu itu Bango Samparan menang;
menurut anggapannya berkat kehadiran Ken Arok. Oleh karena itu Ken Arok
diajaknya pulang dan dijadikan anak pungut istri tua Bango Samparan yang
kebetulan mandul. Di Karuman, Ken Arok merasa kesepian, karena ia
tidak dapat bergaul dengan anak-anak Tirtaja, istri muda Bango Samparan.
Kemudian ia pergi dan bertemu dengan Tita, anak Sahaja, kepala desa
Siganggeng dan belajar bersama pada seorang guru bernama Janggan. Di
rumah Janggan, ia menunjukkan kenakalannya. Buah jambu milik Janggan
yang masih mentah diambil dan diruntuhkan. Melihat perbuatan itu,
Janggan marah. Ken Arok tidak berani masuk rumah, lalu tidur di luar di
atas timbunan jerami kering. Ketika Janggan keluar di malam hari, ia
terkejut melihat sinar berpancaran dari timbunan jerami. Ketika
didekatinya, ternyata sinar itu berasal dari Ken Arok. Sejak saat itu
Janggan sangat menyayangi Ken Arok.Ken
Arok dan Tita tinggal di sebuah pondok di sebelah timur Siganggeng
untuk menghadang para pedangang yang lewat, namun kenakalannya tidak
sampai disitu saja. Ia berani pula merampok dan merogol gadis penyadap
di Desa Kapundungan. Ken Arok menjadi perusuh yang mengganggu keamanan
wilayah Tumapel dan menjadi buruan Akuwu (Penguasa daerah). Ken Arok
lari dari satu tempat ke tempat lain. Tiap tempat yang didatanginya
menjadi tidak aman, namun ia selalu dapat lolos dari bahaya berkat
perlindungan Bhatara Brahma.Ketika
Ken Arok berguru kepada Mpu Palot di Turnyatapada, ia diutus untuk
mengambil emas pada kepala desa Kabalon. Orang-orang Kabalon tidak
percaya bahwa ia adalah utusan Mpu Palot. Karena marah, salah seorang
diantara mereka ditikamnya, lalu ia lari ke rumah kepala desa. Segenap
penduduk Desa Kabalon mengejarnya, masing-masing bersenjatakan golok
atau palu. Sekonyong-konyong terdengar suara dari langit yang berkata:
“Jangan kau bunuh orang itu. Ia adalah puteraku. Belum selesai tugasnya
di dunia!”. Mendengar suara itu para pengejarnya berhenti, lalu bubar.Sementara
itu, diketahui oleh orang-orang Daha (Kediri) bahwa Ken Arok
bersembunyi di Turnyatapada. Dalam kejaran orang-orang Daha, Ken Arok
lari ke Desa Tugaran, dari Tugaran ke Gunung Pustaka dan dari situ
mengungsi ke Desa Limbahan; dari Desa Limbahan ke Desa Rabut, akhirnya
sampai Panitikan. Atas nasihat seorang nenek ia bersembunyi di Gunung
Lejar. Dalam persembunyiannya di Gunung Lejar, ia mendengar keputusan
para Dewa bahwa ia telah ditakdirkan menjadi raja yang akan menguasai
Pulau Jawa.Brahmana
Lohgawe datang dari India ke Pulau Jawa menumpang di atas tiga helai
daun kakatang, diutus oleh Bhatara Brahma untuk mencari orang yang
bernama Ken Arok. Ciri-cirinya: tanganya panjang melebihi lutut; rajah
telapak tangan kanannya ialah cakra, rajah telapak tangan kirinya
bertanda cangkang kerang. Kata Bhatara Brahma, ia adalah titisan Dewa
Wisnu di suatu candi. Dengan jelas diberitahukan kepadanya, Dewa Wisnu
tidak ada lagi di candi pemujaan, karena telah menitis pada orang yang
bernama Ken Arok di Pulau Jawa. Ia diperintahkan mencarinya di
perjudian. Oleh karena itu, sesampainya Brahmana Lohgawe di Pulau Jawa,
ia segera menuju Desa Taloka bertemu dengan Ken Arok.
![]() |
| Candi Singosari, di desa Candi Renggo, Singosari, Kab. Malang. Tempat Perabuan Kertanegara - Raja Terakhir Singasari yang tewas dalam pemberontakan raja bawahannya dari Gelang-gelang. |
Ken
Arok dibawanya menghadap Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung. Setelah
mendengar uraian pendeta Lohgawe bahwa ia baru saja dating dari
Jambudwipa dan maksud kedatangannya ialah untuk menitipkan anak
angkatnya, Ken Arok diterima oleh Tunggul Ametung sebagai pembantu.Istri
Tunggul Ametung sangat cantik bernama Ken Dedes, anak tunggal seorang
pendeta Budha di Panawijen bernama Mpu Purwa. Konon ketika Tunggul
Ametung datang di Panawijen untuk meminang Ken Dedes, kebetulan Mpu
Purwa sedang bertapa di tegal. Karena tidak dapat menahan nafsunya, Ken
Dedes dilarikan ke Tumapel dan dikawininya. Ketika Mpu Purwa pulang dari
pertapaan, mendapatkan rumahnya kosong, lalu menjatuhkan kutuk: “Semoga
yang melarikan anak saya tidak akan selamat hidupnya; semoga ia mati
kena tikaman keris. Semoga sumur dan sumber air di Panawijen semuanya
kering sebagai hukuman kepada para penduduknya, karena mereka itu segan
memberitahukan penculikan anak saya. Semoga anak saya yang sudah
mendapat wejangan karma amamadangi tetap selamat dan mendapat
bahagia!”.Ketika
Ken Arok datang di Tumapel, Ken Dedes telah hamil. Bersama suaminya, ia
naik kereta berpesiar ke taman Baboji. Pada waktu Ken Dedes turun dari
kereta, tersingkap kain dari betis sampai pahanya. Ken Arok terpesona
melihatnya karena rahasia Ken Dedes berpancaran sinar. Sepulangnya dari
taman, peristiwa itu diceritakan oleh Ken Arok kepada pendeta Lohgawe.
Jawab Lohgawe: “Wanita yang rahasianya menyala, adalah wanita nareswari.
Betapapun nestapanya lelaki yang menikahinya, ia akan menjadi raja
besar.” Mendengar ujaran itu, Ken Arok terdiam. Timbul niatnya untuk
membunuh Tunggul Ametung, namun Lohgawe tidak setuju.Ken
Arok meminta izin untuk mengunjungi ayah angkatnya Bango Samparan di
Desa Karuman. Sesampainya disana, ia menceritakan pengalamannya di taman
Baboji kepada Bango Samparan dan menegaskan niatnya untuk membunuh
Tunggul Ametung serta kemudian mengawini Ken Dedes. Bango Samparan
member nasihat agar Ken Arok sebelum melaksanakan niatnya supaya pergi
dulu ke Lulumbang menemui pandai keris bernama Mpu Gandring, ia adalah
kawan karib Bango Samparan. Konon barang siapa kena tikam keris
buatannya pasti mati. Nasihatnya, supaya Ken Arok memesan keris
kepadanya. Hanya setelah keris pesanan itu selesai ia baru boleh
melaksanakan niatnya. Ken Arok berangkat ke Lulumbang dan memesan keris
kepada Mpu Gandring. Dalam waktu lima bulan, keris itu supaya sudah
selesai. Namun jawab Mpu Gandring, supaya ia diberi waktu setahun agar
matang pembuatannya. Ken Arok tetap pada permintaannya, lalu ia pergi.
Lima bulan kemudian, Ken Arok kembali ke Lulumbang untuk mengambil keris
pesanannya, namun keris itu sedang digerinda. Karena marahnya, keris
itu direbut dan ditikamkan pada Mpu Gandring, kemudian dilemparkan ke
lumpang pembebekan gerinda. Lumpang pun pecah terbelah. Dilemparkan lagi
ke landasan, namun landasan pun pecah berantakan. Ken Arok yakin bahwa
keris itu benar-benar ampuh. Sementara itu, Mpu Gandring yang sedang
berlelaku, mengumpat: “Hei Arok! Kamu dan anak cucumu sampai tujuh
keturunan akan mati karena keris itu juga!” setelah menjatuhkan umpat
itu, ia pun mati. Pikir Ken Arok: “Kalau kelak saya benar jadi orang
besar, anak cucu Gandring akan mendapat balas jasa,” lalu, Ken Arok pun
pulang tergesa-gesa ke Tumapel.Di
Tumapel, Ken Arok memiliki seorang sahabat karib bernama Kebo Hijo.
Kebo Hijo sangat dipercaya oleh Tunggul Ametung, tetapi wataknya suka
pamer. Ketika ia melihat keris Ken Arok yang berukiran kayu cangkring,
ia meminta Ken Arok untuk meminjamkan kepadanya. Memang itulah maksud
Ken Arok, keris kemudian dipinjamkan lalu dipamer-pamerkan Kebo Hijo
kepada orang banyak, sehingga segenap orang Tumapel tahu bahwa Kebo Hijo
mempunyai keris baru. Ken Arok menduga bahwa saat yang
dinanti-nantikannya telah tiba. Keris diambil oleh Ken Arok tanpa
sepengetahuan Kebo Hijo. Pada malam hari waktu telah sepi, Ken Arok
masuk ke rumah Tunggul Ametung, ia langsung menuju tempat tidur Tunggu
Ametung yang sedang tidur nyenyak, segera ditikamnya dengan keris
Gandring. Baru keesokan harinya diketahui bahwa Tunggul Ametung telah
mati ditusuk dengan keris milik Kebo Hijo yang masih tertancap di
dadanya. Dengan serta merta, Kebo Hijo disergap oleh sanak saudara
Tunggul Ametung, dikeroyok dan ditusuki dengan keris Gandring. Anaknya
Kebo Randi menangisi kematian ayahnya. Melihat peristiwa itu, iba hati
Ken Arok dan berjanji akan mengambilnya sebagai pekatik (abdi).Sepeninggal
Tunggul Ametung, Ken Arok menjadi akuwu di Tumapel dan mengawini Ken
Dedes. Di antara warga Tumapel, tidak ada seorangpun yang berani
menentang. Pada waktu itu Tumapel adalah daerah bawahan Daha (Kediri),
yang diperintah oleh Raja Kertajaya. Konon Raja Kertajaya juga disebut
sebagai Dandang Gendis. Ia sedang berselisih dengan para pendeta
Siwa-Budha, karena keinginannya untuk disembah sebagai Dewa. Keinginan
itu ditolak, karena belum pernah terjadi pendeta menyembah raja. Untuk
memperlihatkan kemampuannya, Kertajaya menancapkan tombaknya di tanah
dan duduk diatas ujungnya. Namun, para pendeta tetap pada pendiriannya.
Beberapa pendeta meninggalkan Daha dan pergi mencari perlindungan di
Tumapel. Hal ini menambah jumlah pengikut Ken Arok yang sudah agak
besar. Keturunan dan kerabat yang pernah berbuat baik kepada Ken Arok
dipanggil ke Tumapel untuk menerima balas jasa dan diminta untuk menetap
disana. Oleh para pengikutnya, Ken Arok diangkat sebagai raja dan
mengambil nama abhiseka sebagai Rajasa Sang Amurwabhumi. Sejak saat itu,
Ken Arok tidak lagi menghadap Raja Kertajaya di Daha. Hal itu
menimbulkan rasa curiga pada Kertajaya. Ken Arok diduga akan
memberontak. Kertajaya bersumbar bahwa Daha tidak akan dapat ditundukkan
oleh siapa pun, kecuali oleh Bhatara Guru (Dewa Siwa). Mendengar
sesumbar itu, Ken Arok memanggil para pendeta dan rakyatnya untuk
menyaksikan bahwa ia mengambil nama sebagai Bhatara Guru dan
memerintahkan tentara Tumapel untuk bergerak menyerbu Daha. Pertempuran
sengit antara tentara Tumapel dan Daha berkobar di sebelah utara Desa
Ganter. Dalam pertempuran itu, Mahisa Walungan dan Gubar Baleman,
hulubalang Daha, tewas. Sehingga bala tentara Daha terpukul mundur dan
lari mencari perlindungan. Raja Kertajaya pun melarikan diri mencari
perlindungan di dalam candi. Daha pun jauh dalam kekuasaan Tumapel pada
tahun 1222 Masehi.Dari
perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok memperoleh tiga orang putera
dan seorang puteri, yaitu Mahisa Wunga Teleng, Panji Saprang, Agnibaya
dan Dewi Rimbu. Dan perkawinan keduanya dengan Ken Umang, Ken Arok juga
mempunyai tiga putera dan seorang puteri yaitu Panji Tohjaya, Panji
Sudatu, Tuan Wregola dan Dewi Rambi. Putera sulung Ken Dedes keturunan
Tunggul Ametung bernama Anusapati.Bertahun-tahun
lamanya kisah pembunuhan Tunggul Ametung dirahasiakan oleh Ken Dedes
terhadap Anusapati. Namun, ketika Anusapati telah remaja dan ia merasa
diperlakukan lain daripada saudara-saudaranya oleh Sang Amurwabhumi,
muncullah rasa curiga di dalam hati Anusapati. Atas desakan pengasuhnya,
Anusapati bertanya kepada Ken Dedes, mengapa Sang Amurwabhumi bersikap
demikian. Jawab Ken Dedes, “Jika engkau ingin tahu, ayahmu yang
sebenarnya ialah mendiang Tunggul Ametung. Ayahmu telah mati, ketika
engkau masih di dalam kandungan. Pada waktu itu aku dikawini oleh Sang
Amurwabhumi.” Anusapati bertanya lagi, “Apa sebabnya ayah meninggal?”
Jawab Ken Dedes, “Dibunuh oleh Sang Amurwabhumi”. Pada saat itu Ken
Dedes terdiam, merasa telah membocorkan rahasia. Anusapati bertanya
lagi:”Ibunda, bolehkan saya melihat keris Gandring pusaka Sang
Amurwabhumi?” Keris pun diperlihatkan Ken Dedes kepada Anusapati.Anusapati
mempunyai seorang pengalasan berasal dari Desa Batil. Pengalasan itu
segera dipanggil dan diberi perintah untuk membunuh Sang Amurwabhumi
dengan keris Gandring. Tanpa membantah, pengalasan itu pun pergi untuk
membunuh Ken Arok. Dengan serta merta, Sang Amurwabhumi yang sedang
bersantap ditikam dari belakang, mati seketika itu juga. Ketika itu hari
Kamis Pon, wuku Landep, waktu senja matahari baru saja tenggelam,
tahun Saka 1169 (1297 Masehi). Setelah menikam, pengalasan itu pun lari
untuk member laporan kepada Anusapati. Anusapati kemudian memberinya
hadiah imbalan. Katanya:”Telah mati terbunuh, oleh hamba, ayah paduka!”
Dengan serta merta pula, pengalasan itu dihabisi hidupnya oleh
Anusapati. Karenanya tersiar kabar: “Sang Prabu mati kena amuk orang
dari Desa Batil. Anusapati telah membalaskan dendam dengan membunuh
pengalasan itu:. Rajasa Sang Amurwabhumi pun dicandikan di Kagenengan.



0 komentar:
Posting Komentar